Peningkatan Mutu Tata Layanan Madrasah (Tulisan ke-1)

Rubrik ini diadakan dalam rangka membantu pengelola madrasah dan pemerintah khususnya kementerian agama dalam upaya percepatan peningkatan mutu pendidikan di kalangan madrasah.

Ada pertanyaan dasar yang melatar belakangi pengisian rubrik ini yaitu “apa dan bagaiamana cara yang lebih cepat dan lebih tepat dalam meningkatkan mutu madrasah dalam kondisinya saat ini?”. Pertanyaan ini penting untuk diutarakan mengingat adanya peluang madrasah yang begitu besar namun cara yang digunakan belum efektif.  

Ada dua fenomena perkembangan lembaga pendidikan Islam (madrasah) saat ini; Pertama madrasah yang didirikan dengan disain yang profesional. Lembaga ini didirikan dan bahkan dikelola langsung oleh orang ahli (pakar) pendidikan dengan konsep, rencana yang matang dan berteknologi. Dari pengelolaan sarana, keuangan, manajemen personlianya sampai bagaimana membina hubungan yang baik dengan masyarakat semua sudah dirancang dengan konsep promosi yang memikat, partisipatif dan adanya jaminan kualitas yang dapat terukur. Wal hasil sekolah yang dirancang demikian benar-benar diminati oleh masyarakat. Contoh lembaga yang seperti akhir-akhir ini banyak bermunculan di perkotaan; dan yang ke-dua adalah lembaga yang sudah berdiri sejak lama, dan berdiri seadanya. Berdasarkan latar belakang berdirinya lembaga fenomena ke-dua ini didirikan dalam rangka keperdulian pada masyarakat, kurangnya sarana pendidikan atau dalam sejarah pendidikan Islam berdirinya madrasah oleh karena perlawanan pada pemerintah Kolonial Belanda yang pada saat itu yang mendirikan lembaga pendidikan hanya pada kalangan tertentu. Sehingga lahirnya lembaga pendidikan Islam pada saat itu lahir dengan segala keterbatasannya. Guru yang mengajar seadanya, sarana yang dimiliki seadanya, kepala madrasah yang diangkat juga seadanya, bahkan kurikulumpun mungkin juga seadanya. Contoh lembaga jenis ini sangat banyak di Indonesia termasuk sebagian besar madrasah.

“Mendirikan lebih mudah dari pada merawat” demikian kata pepatah yang sering kita dengar. Memperbaiki hal sudah kadung berjalan, sudah kadung membudaya sifat negatifnya, sudah kadung banyak masalah tentu sangat memerlukan energi dan strategi yang tidak sedikit. Apalagi metodologi yang digunakan pas-pasan.

Saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pendidikan yang sangat positif bagi  pengembangan pendidikan, terutama bagi lembaga pendidikan swasta yang berbasis agama (Islam). Dengan standar pengelolaan manajemen berbasis sekolah (MBS) diharapkan pengelolaan pendidikan berjalan secara mandiri bersama peran sarta masyarakat, dunia usaha dan potensi lain disekitarnya, berpartisipasi meningkatkan mutu dan memajukan pendidikan. Membangun kemitraan dan memecahkan masalahnya secara berpartisisi. Semuanya diarahkan pada pengelolaan yang transfaran dan akuntabel.

Standar pengelolaan ini sebenarnya seperti menggali kembali puing-puing semangat pendirian lembaga madrasah yang pada awalnya memang dari peran serta masyarakat, didirikan dengan semangat jihat, membrantas kebodohan dan keterbelakangan dan bahkan melawan penjajahan. Oleh karena itu tentu pesan, makna atau nilai substansial dari kebijakan otonomi pendidikan tersebut dapat dimaknai secara tepat oleh pengelola pendidikan Islam.

Dari sosial kultural potensi madrasah juga sangat banyak: Islam yang mayoritas, terbiasa mandiri (karena lama dianaktirikan pemerintah), ruhul jihat tinggi, tingginya nilai filosofis pendiriannya, bahkan dampak negatif globalisasi dapat menjadi peluang bagi madrasah. sungguh amat banyak potensi yang dimiliki madrasah. Kalau kita amati ketika berkunjung ke madrasah di daerah-daerah, banyak juga pengurus yayasan, kepala madrasah atau guru yang visi dan gagasannya sangat tinggi, namun karena keterbatasan motodologi mereka kurang tepat memulai.

Dalam rangka itulah, setelah melalui pengamatan dan pengalaman kami mencoba menawarkan konsep pengembangan mutu madrasah melalui rubrik bimbingan penyusunan rencan kerja.

Ada dua alasan penting kenapa RKM ini menjadi penting kita angkat sebagai bahasan utama. Pertama berdasarkan PP No 19 tahun 2005 tentang SNP dan Peremendiknas No 19 Tahun 2007 tentang standar pengelolaan pendidikan penyusunan RKM/S menjadi kewajiban pengelola pendidikan. Yang ke-dua penyusunan rencana kerja yang benar ternyata lebih efektif meningkatkan mutu pendidikan karena banyak berdampak pada adanya perubahan kualitas pengelolaan pendidikan. Bahkan kunci sukses pengelolaan pendidikan menurut saya terletak pada adanya perencanaan. Oleh karena itu tidak berlebihan apabila orang mengatakan sebaik atau setinggi apapun gagasan seorang tentang lembaga pendidikan yang ditangani tanpa rencana kerja yang jelas dan terukur sama halnya dengan omong kosong.

Minimal ada dua yang bisa menjadi tolak ukur apakah rencana kerja itu baik atau tidak: 1) tingkat ketercapaian pelaksanaan rencana. Semakin bisa dilaksanakan, maka semakin baik kualitas rencana tersebut; 2) ketepatan menentukan sasaran. Ketepatan menentukan sasaran disini adalah seberapa tepat kita menentukan kegiatan terkait dengan persoalan/tantangan sekolah. Oleh karena itu ukuran baik tidaknya sebuah rancana kerja bukan hanya terletak pada kover, tebalnya dokumen rencana, atau baiknya tidaknya kalimat dalam penyusunan dokumen rencana.

Dalam rubrik ini akan dibimbing melalui beberapa tema. Bagian pertama pengantar penyusunan RKM, selanjutnya berturut-turut, Menyusun RKM Bangian pertama (Menganalisa tantangan madrasah),  Penyusunan RKM bagian Kedua (Mengidentifikasi alternatif pemecahan tantangan, Menyusun RKM bagian ke-tiga (Penentuan Program/Kegiatan), Menyusun RKM Bagian ke-empat (menyusun angggaran sekolah), Menyusun RKM bagian Kelima (menyusun Rencana Kerja Tahunan dan Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah/Madrasah) dan bagian ke-enam (terakhir) Monitoring dan evaluasi.

Hak cipta oleh Maimon, S.Ag. M.Pd.  Email imon_165@yahoo.co.id (Mohon jika mengambil tulisan posting ini mecantumkan nama penulis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s